Estetika tata ruang perkotaan di Kabupaten Tabanan diproyeksikan segera mengalami transformasi visual yang signifikan menjadi lebih representatif.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Pemerintah Kabupaten Tabanan resmi melanjutkan tahapan mega proyek penataan kawasan Taman Tugu Singasana yang berlokasi strategis di Jalan Merpati, Desa Delod Peken, Tabanan.
Kawasan yang sebelumnya merupakan eks fasilitas Kantor Kesbangpol dan Damkar tersebut kini bertransformasi menjadi lokasi pembangunan tugu menara ikonik dengan ketinggian vertikal mencapai 30 meter. Proyek strategis daerah ini ditargetkan rampung secara menyeluruh pada akhir tahun berjalan.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Tabanan, I Gde Partana (50), menjelaskan bahwa aktivitas konstruksi fisik yang tengah berlangsung merupakan fase ketiga atau tahapan lanjutan dari program tahun-tahun sebelumnya. Rangkaian pengerjaan di area proyek tersebut sejatinya telah mulai bergulir sejak Januari 2026.
Guna mengejar target, pihak mitra kerja di lapangan terus mengoptimalkan progres pembangunan agar tidak meleset dari linimasa. “Realisasi pengerjaan telah berjalan sejak Mei lalu, dan kami memproyeksikan penyelesaian menyeluruh pada akhir tahun, yakni 31 Desember 2026,” tutur Gde Partana saat dikonfirmasi pada Kamis (4/6/2026).
Menurut penjelasannya, arsitektur Tugu Singasana dirancang secara spesifik dengan mengadopsi narasi historis yang mendalam. Representasi desainnya merangkum periodisasi Kabupaten Tabanan yang mencakup masa lampau, masa kini, serta visi masa depan. “Monumen ini didirikan sebagai simbol penghormatan terhadap rekam jejak perjuangan masyarakat Tabanan,” paparnya.
Proyek yang diinisiasi penuh oleh Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya (55) tersebut mengalokasikan anggaran bersumber dari APBD dengan nilai mencapai lebih dari Rp 14 miliar.
Penetapan lokasi di eks Kantor Kesbangpol dan Damkar juga didasari oleh aspek filosofis dan historis. Kawasan tersebut pada masa kolonial merupakan tangsi militer serta basis penyimpanan senjata pasukan Ciung Wanara saat berkecamuknya perang puputan melawan penjajah Belanda. “Nilai-nilai sejarah yang heroik tersebut yang ingin kami visualisasikan dan lestarikan melalui tugu ini,” urai Partana.
Di samping menara utama setinggi 30 meter, lanskap taman ini nantinya diintegrasikan dengan infrastruktur penunjang ruang publik. Di antaranya ketersediaan area komunal, relief bertema perjuangan, patung singa, hingga fasilitas basement. Konstruksi bawah tanah ini berfungsi sebagai solusi teknis dalam menyiasati perbedaan elevasi atau kontur tanah di tapak proyek.
“Metode pembangunannya diaplikasikan secara bertahap. Pada tahun 2025, fase II telah merampungkan struktur fondasi dasar. Sedangkan pada tahap III tahun 2026 ini, fokus pengerjaan diarahkan pada penyelesaian badan utama menara hingga penataan kawasan taman secara komprehensif,” pungkasnya. [*]