DENPASAR — Menanggapi tren penurunan pertumbuhan penduduk asli di Pulau Dewata, Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan imbauan kepada masyarakat (krama) setempat untuk kembali memiliki empat anak dalam satu keluarga. Langkah strategis ini dinilai sangat krusial guna menjaga eksistensi adat istiadat, kebudayaan, serta keberlanjutan generasi penerus Bali di masa depan.
Saat ini, potret demografi Bali menunjukkan indikator yang menantang:
-
Total Populasi: Berada di kisaran 4,4 juta jiwa.
-
Persentase Nasional: Hanya menyumbang sekitar 1,6 persen dari total keseluruhan penduduk Indonesia.
Melihat data tersebut, kelestarian identitas lokal Bali dibayangi oleh tantangan besar. Jika jumlah warga asli terus mengalami penyusutan, dikhawatirkan warisan budaya unik yang menjadi roh Pulau Dewata dapat terancam di masa mendatang.
Gubernur Bali Wayan Koster mengungkapkan kekhawatirannya terkait mulai langkanya nama anak ketiga dan keempat dalam struktur keluarga krama Bali. Hal ini dipicu oleh tren masyarakat yang rata-rata hanya memiliki dua anak per kepala keluarga.
“Berkaca dari jumlah warga asli Bali yang semakin sedikit karena rata-rata satu kepala keluarga hanya memiliki dua anak, maka anak ketiga (Nyoman) dan anak keempat (Ketut) mulai jarang ditemukan. Kalau jumlah kita semakin sedikit, bagaimana kita mampu mempertahankan dan melestarikan budaya Bali? Untuk itu, saya mengajak setiap rumah tangga di Bali kembali memilih memiliki empat anak,” tegas Gubernur Koster.
Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan ribuan warga saat beliau menghadiri acara Dharma Santi yang dirangkaikan dengan perayaan berikut:
-
HUT ke-57 Para Gotra Sentana Dalem Tarukan (PGSDT).
-
HUT ke-6 Balapraja Tahun 2026.
Acara yang berlangsung meriah tersebut diselenggarakan di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung, pada Minggu, 24 Mei 2026. Kendati mendorong peningkatan kuantitas penduduk secara demografi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menegaskan komitmennya untuk tetap fokus menggenjot peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal secara beriringan.
Pemprov Bali Gulirkan Program “Satu Keluarga Satu Sarjana” untuk Dongkrak Mutu SDM
Guna mengimbangi imbauan peningkatan kuantitas penduduk, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali secara konkret meluncurkan program “satu keluarga satu sarjana”. Langkah strategis ini dieksekusi melalui kerja sama sinergis dengan deretan perguruan tinggi terkemuka di seluruh Bali untuk memastikan akses pendidikan tinggi yang merata bagi warga asli.
Di samping memaparkan program pendidikan tersebut, Gubernur Wayan Koster memanfaatkan momentum yang sama untuk melayangkan apresiasi tinggi kepada keluarga besar Para Gotra Sentana Dalem Tarukan (PGSDT). Paguyuban ini dinilai memiliki kontribusi besar dalam aspek sosial, antara lain:
-
Konsistensi Hubungan: Menjaga dan merawat tali silaturahmi antaranggota secara berkelanjutan.
-
Implementasi Filosofi: Menerapkan nilai-nilai luhur budaya Bali, yakni asah, asih, dan asuh secara nyata dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa tanggung jawab penuh atas keberlanjutan masa depan Pulau Dewata berada di tangan masyarakat asli Bali. Beliau meminta Paiketan Para Gotra Sentana Dalem Tarukan (PGSDT) untuk ikut andil secara aktif dalam mengawal roda pembangunan daerah.
“Saya minta Paiketan Para Gotra Sentana Dalem Tarukan turut mendukung pembangunan Bali, salah satunya dengan menjaga kelestarian budaya dan adat istiadat Bali agar Bali tetap menjadi tempat yang nyaman bagi semua orang, khususnya bagi krama Bali sendiri. Karena masa depan orang Bali tidak bisa dititipkan kepada orang lain dan hanya bisa dijaga oleh krama Bali itu sendiri,” ujar Koster.
Di samping itu, beliau menitipkan pesan krusial agar keberadaan ikatan kekerabatan atau pasemetonan tidak sampai menciptakan sekat-sekat eksklusif dalam dinamika sosial masyarakat. Menurut Koster, pasemetonan memegang peran penting sebagai wujud bakti luhur kepada leluhur, namun tidak boleh menjadi pemicu fanatisme golongan yang mengkotak-kotakkan diri dan merusak persatuan.
Rayakan HUT ke-57 dan Dharma Santi Nyepi, PGSDT Ajak Krama Bali Mulat Sarira
Kombinasi antara perayaan hari ulang tahun ke-57 PGSDT Provinsi Bali dengan Dharma Santi Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948 sukses menciptakan atmosfer yang penuh kehangatan. Acara gabungan ini dirancang sebagai wadah bersama untuk memupuk kembali rasa solidaritas dan mempererat rasa kekeluargaan di antara krama Bali.
Di tengah laju modernisasi, perayaan ini membawa pesan spiritual yang kuat bagi masyarakat, yaitu pentingnya menjaga konsep mulat sarira (introspeksi diri). Melalui semangat refleksi ini, diharapkan seluruh elemen masyarakat dapat saling merangkul, memperkuat sinergi, dan bersama-sama menjaga kedamaian serta keasrian Pulau Dewata agar tetap lestari.