Asal-usul Nasi Jinggo di Bali berawal dari aktivitas dagang Ni Ketut Ngasti pada tahun 1970-an di Pelabuhan Benoa, Denpasar. Dikenal dengan sebutan Men Djenggo, beliau menyediakan nasi bungkus porsi kecil untuk kalangan pekerja kasar, seperti sopir dan buruh pelabuhan. Seiring berjalannya waktu, nasi bungkus buatan Men Djenggo ini menjadi legenda dan identik dengan istilah “Nasi Jinggo” yang kita kenal hingga saat ini sebagai salah satu makanan paling merakyat di Pulau Dewata.
Kelezatan nasi buatan Ni Ketut Ngasti terletak pada kesederhanaannya; perpaduan lauk ayam, sapi, babi, telur, kacang, dan sambal yang menggugah selera dengan harga yang sangat terjangkau. Namun, sisi paling menarik adalah asal-usul namanya. Sang suami, Buddy Alexie Bloem, merupakan penggemar berat film koboi klasik “Django”. Ia sering memanggil putra mereka, Henry Alexie Bloem, dengan julukan “Djenggo”. Mengikuti tradisi tutur masyarakat Bali yang memanggil orang tua berdasarkan nama anaknya, Ni Ketut Ngasti pun mulai dikenal sebagai Men Djenggo (Ibunya Djenggo). Dari sanalah istilah “Nasi Men Djenggo” lahir dan melegenda.
Akhir Perjalanan Sang Legenda, Lahirnya Sebuah Tradisi
Siapa sangka dari dapur sederhana Men Djenggo, lahir sebuah fenomena bernama Nasi Jinggo. Nama aslinya perlahan menyusut menjadi “Jinggo” yang lebih populer di telinga masyarakat saat ini. Dulu, pesanan beliau bisa membeludak sampai ribuan bungkus kalau ada kapal pesiar yang bersandar! Walaupun Men Djenggo sudah gantung wajan sejak 1982 karena fokus melayani umat sebagai pemangku, resep dan semangat nasi murah meriahnya tetap hidup. Sekarang, Nasi Jinggo bukan sekadar makanan, tapi sudah menjadi simbol kuliner rakyat di Bali.